Miskin adalah orang yang memiliki sedikit atau hampir tidak mempunyai harta, sedangkan kaya adalah orang yang memiliki harta banyak atau berlimpah.
Tidak ada orang yang ingin hidupnya miskin, semua orang ingin milih kaya daripada miskin, tetapi apa benar kaya lebih baik daripada miskin? Bicara soal kaya, yang muncul dalam benak kita adalah rumah yang megah, villa yang indah, mobil yang mewah, perusahaan yang besar dan lain sebagainya. Kalau menginginkan semua ini, berarti kita tergolong manusia pengejar harta duniawi. Ya, kaya secara duniawi bukan sesuatu yang salah kalau kita memperolehnya dengan cara yang benar. Sebaliknya, kalau bicara soal miskin, jangan bicara yang satu ini ah, yakin tidak akan ada yang mau mendengar :)
Hampir semua orang menjauhi kemiskinan dan semua berusaha mencari kekayaan sebanyak-banyaknya entah dengan cara halal atau tidak halal, dan pasti semua orang menjauhi kemiskinan. Semua orang menganggap kaya itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan semua orang berlomba untuk mencari kaya.
Tetapi, sekali lagi, apa benar kaya lebih baik daripada miskin? Antara kaya yang menyenangkan dan miskin yang tidak menyenang.
Miskin membuat kita akrab dengan lapar, dingin, kurang gizi, penyakit dan semua hal tidak menyenangkan yang bersifat jamani dan bisa menjadi penyakit batiniah dari yang paling rendah kadarnya yakni rendah diri hingga meningkat menjadi kebencian, bahkan hilangnya moralitas yang berganti dengan perbuatan buruk seperti mencuri, merampok dan membunuh.
Miskin adalah buah dari perbuatan buruk yang pernah dilakukan, sesuatu yang sudah buruk di masa lalu ditambah lagi dengan perbuatan buruk yang dilakukan saat ini. Tidak perlu dikomentari lagi, sesuatu yang semula sudah buruk itu menjadi lebih buruk lagi. Entah mengerti atau tidak sumber penyebab kemiskinan, yang pasti kebanyakan orang tak ingin akrab dengan kemiskinan.
Bila banyak yang tidak mau, berarti kemiskinan itu akan semakin berkurang di muka bumi ini. Secara jasmaniah kemiskinan memang tampak semakin berkurang di bumi yang bundar ini, tetapi apakah secara batiniah juga berkurang?
Orang yang pedoman hidupnya hanya mengejar kekayaan, dia akan rela mengorbankan segalanya demi mendapatkan kekayaan itu. Ternyata kesehatan, keluarga, persahabatan dan bahkan moralitas dipandang tak sepadan dan patut dikorbankan demi yang namanya harta kekayaan. Bukan itu saja, mereka yang sudah kaya masih merasa kurang kaya.
Demi rasa gengsi dan keangkuhan, mereka terus mengejar kekayaan, bila perlu menghalalkan segala macam cara. Akibatnya, kekayaan yang seharusnya menunjang peningkatan kualitas kehidupan justru membangkitkan sisi buruk batiniah manusia.
Untuk menjadi kaya, mereka melakukan hal-hal yang tidak bermoral, yang ada dalam pikiran mereka hanya satu: bagaimana bisa menjadi kaya kalau tidak dengan cara demikian? Jadi perbuatan amoral itu hanya merupakan sarana untuk menjadi kaya. Tetapi lucunya, setelah kaya perbuatan amoral itu justru semakin menjadi-jadi.
Jelasnya, yang miskin tak tahan godaan untuk menjadi kaya dan yang sudah kaya tak tahan untuk menjadi lebih kaya, kemudian mereka melakukan perbuatan amoral untuk mengejar kekayaan itu.
Setelah kaya, orang-orang yang tak tahan godaan ini menikmati kekayaan itu dengan cara amoral pula. Jadi, baik yang miskin ataupun yang kaya, ujung-ujungnya banyak yang berbuat amoral.
Untuk lebih jelasnya, kaya atau miskin itu merupakan buah dari benih perbuatan kehidupan masa lalu dan perbuatan masa sekarang. Sedang benih dan buah itu merupakan hubungan yang berbanding lurus. Benih yang baik akan menghasilkan buah yang baik, pun benih yang buruk akan mendatangkan buah yang buruk.
Dengan kata lain, kalau ingin kaya maka tanamlah benih yang menghasilkan kekayaan yakni berdana serta jangan lupa memupukinya dengan usaha keras. Kalau menanam benih kikir serta malas berusaha, jangan membenci siapapun kalau kemudian kita selalu didatangi oleh kemiskinan.
Kita boleh miskin, tetapi jangan membuat generasi penerus menjadi generasi bermental miskin dan kikir.
Saat kita miskin, coba renungkan mengapa kita miskin?
Saat mengejar kekayaan ataupun dalam kecukupan, coba renungkan apa yang dapat dilakukan dengan kekayaan itu?
Comments
Tuhan Yesus memberkati, Amin